headerslideheaderslideheaderslideheaderslide
Artikel

Mimisan pada Anak Berbahayakah?

Ayah bunda mungkin pernah mendapati sang buah hati mengalami mimisan. Saat hal ini terjadi, seringkali Ayah Bunda mencemaskan kondisi tersebut. Tak jarang pula orang tua melakukan penanganan pertama mimisan pada anak dengan langkah yang kurang tepat. Lalu, bagaimana pertolongan pertama mimisan yang benar pada anak?


Mimisan atau epistaksis merupakan kondisi dimana keluar darah secara tiba-tiba dari hidung yang biasanya terjadi pada anak usia 2 hingga 10 tahun. Mimisan dapat berhenti sendiri dan jarang menyebabkan keadaan yang serius.

Hidung merupakan organ yang kaya akan aliran darah dimana pembuluh darah pada hidung terletak terletak superficial dan tidak terlindungi oleh apapun. Sehingga ketika terjadi benturan atau trauma mudah sekali terjadi iritasi dan perdarahan. Pada anak-anak, pembuluh darah hidung lebih rapuh dan mudah pecah, sehingga kejadian mimisan pada anak lebih sering dibandingkan orang dewasa.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa 80 – 90% penyebab mimisan tidak diketahui penyebabnya. Namun banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya mimisan, diantaranya adalah pengaruh cuaca yang sangat kering atau kelembapan udara yang rendah, menghembuskan napas terlalu keras ketika buang ingus atau mengorek hidung terlalu dalam. Penyebab lainnya yang sering dialami anak-anak adalah benturan pada hidung atau adanya benda asing yang masuk ke dalam hidung. Dari semua penyebab tersebut, flu dan alergi terhadap cuaca dingin dianggap sebagai penyebab terjadinya mimisan yang paling umum.

        Ketika terjadi mimisan pada anak, lakukan langkah-langkah sebagai berikut :

      - Tetap tenang dan jangan panik ketika Ayah Bunda mendapati anak mengalami mimisan, karena Ayah Bunda juga harus menenangkan anak agar lebih mudah memberikan pertolongan.

        - Ajak anak untuk duduk dengan posisi kepala agak menunduk. Hindari posisi kepala yang menengadah ke atas atau posisi tiduran, karena hal ini justru menyebabkan darah mengalir ke bagian kerongkongan sehingga memicu anak untuk batuk, tersedak bahkan muntah.

       - Tutup hidung menggunakan tisu dengan cara menekan hidung bagian depan (bagian yang lunak) selama kurang lebih 5-10 menit dengan kekuatan tekanan yang stabil untuk menghentikan perdarahan. Mintalah anak untuk bernapas melalui mulut ketika hidung sedang ditekan. Lepaskan dan perhatikan apakah perdarahan sudah berhenti atau belum. Ulangi apabila mimisan belum berhenti.

Walaupun mimisan tidak menyebabkan kondisi yang serius, namun Ayah Bunda harus tanggap apabila mimisan belum berhenti setelah melakukan pertolongan pertama. Bawalah ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat ketika mimisan tak kunjung berhenti, darah yang keluar sangat banyak, anak tampak lemas dan pucat, tubuh berkeringat dingin dan mengalami batuk, tersedak bahkan kesulitan untuk bernapas.

Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati, pemahaman terhadap kondisi mimisan ini sangat diperlukan oleh orang tua untuk mengantisipasi mimisan pada anak. Menghindari penyebab dan senantiasa mengawasi anak serta memastikan kuku anak selalu dalam keadaan bersih dan tidak terlalu panjang agar dia tidak melukai dirinya sendiri saat sedang membersihkan kotoran hidung.

Semoga dengan pemahaman yang benar tentang mimisan, Ayah Bunda tidak lagi cemas menghadapi buah hati yang mengalami mimisan, dapat melakukan pertolongan dengan benar, sehingga mimisan pada anak cepat teratasi. - dr. Novia Mantari